Hanya Dia yang Tahu Siapa Aku

Biarkan lidah ini menahan huruf yang terangkai dalam kata

Biarkan diri ini bercermin pada kaca yang keruh

Biarkan ucap yang terlukis dalam laku ini seperti adanya

Biarkan Dia saja yang tahu siapa aku

Cukup aku yang menyangsikan benar salahnya diriku

Cukup aku yang meredam gemuruh benalu

Cukup aku yang setia dengan diriku

Cukup Dia yang tahu siapa aku

Walau dera meneguk habis semangatku

Walau ronta menahan jasadku melaju

Walau asa menarikku hingga putus

Biarkan Dia saja yang tahu siapa aku

Advertisements

Semburat Kelabu

Warna itu tak lagi seindah warnaku

Mega itu kelam tak nampak indahnya

Pasir itu tak lagi berbisik untukku

Tak tahu untukmu, apa kau merasa

Tak ada kata yang bisa ku bahasakan

Tak ada metode yang mampu meramalkan

Tak ada sendu yang bisa kuterjemahkan

Tak ada cerita yang bisa kutaburkan

Engkau jelas tak mengenalku

Engkau jelas tak perlu tahu aku

Engkau jelas tak perlu kehadiranku

Engkau tak perlu sadar kehadiranku

Biarkan kelabu itu tetap kelabu

Tak perlu diterjemahkan dalam kata

Tak perlu diungkapkan dengan rasa

Tak usah diperlihatkan dengan etika

Ku biarkan dalam diam

Ku biarkan dalam tutur yang bisu

Kubicara dalam hati yang beku

Kutenggelam dalam sepi yang menyeru,,,,dirimu

Sudah cukup kecemasanku

Sudah cukup pengharapanku

Engkau bukan segalanya bagiku

Engkau hanya,,,hanya,,,dirimu

Kuwaru, Ahad 18 Juli 2010

Sudut ruang tamu : Saat hati tahu kemampuan diri

Kidung Rindu

Selepas Terang

Deburan ombak terdengar tak biasa di telinga

Bergetar menembus raga yang lara

Sembilu tak lagi tajam menyayat

Titik air mata tak lagi menderas pipi

Lalu kemana perasaan itu?

Berkecamuk dalam lubuk, hanya didalamnya

Bagaimanakah semua itu dapat dilalui

Dapatkah ombak yang memecah tadi datang lagi

Akan ku hadapi, akan ku pecahkan dengan kepalan tanganku

Aku bisa berpegangan sekarang

Aku mampu tegak berdiam sekarang

Untuk beberapa saat tumbang lagi

Ada yang datang

Ada yang mengusik ego yang tumbuh

Ada yang membuncahkan emosi diri

Ada luapan mimpi

Ingatkan aku bukan aku yang dulu

Ingatkan aku bukan embun suci yang menyejukkan

Ingatkan aku bukan melati wangi yang menawan

Ingatkan aku bukan mentari hangat yang mencerahkan

Kuwaru, 10 Juli 2010

Dari perjalanan pantai yang elok

“Aku ingin ada seseorang yang menyanyikan sebuah lagu romantis untukku, walau hanya dalam hati, sungguh, walau hanya dalam hati, karena aku ingin disayangi.”

Jika memang kau pilihkan aku, tunggu sampai aku datang, nanti ku bawa kau pergi, ke syurga abadi

Kini belumlah saatnya, aku membalas cintamu, nantikanku di batas waktu.

Terdengar konyol atau terlalu melankolis atau terlalu manja memang ketika endengar permintaan seperti cuplikan diatas. Tapi pertanyaannya sekarang adalah salahkan permintaan itu?