Manusia di Balik Lubuk

Erangan nyata yang terdengar tak sedikitpun menyentuh daun telinganya,
Jeritan naas tak kan mampu memaksa kepalanya menengok,
Lenguhan panjang hanya akan terasa bising putaran kipas yang menyala,
Salakan dan lolongan panjang hanya mengantarkan untuk tetap tinggal diperaduan,

Bukan bahasa yang melangit memang,
Tindakan tak nyata yang tercerca pada harap yang tak kan pernah sampai pada muaranya,
Jengah dipandangan yang silau bergelimang intan remuk,

Silakan bungkam mulut mereka,
Silakan bekukan tubuhnya,
Suara itu akan tetap bergema,
Semakin bergema menyelimuti awan-awan negeri yang telah bobrok,

Sungguh, betapapun kalian ingkari
Wahai bapak-bapak, ibu-ibu, kakak-kakak yang duduk nyaman di negeri antah berantah
Kalian membutuhkan mereka,

Sungguh, apa jadinya kalian tanpa mereka?

Pucuk-pucuk tunas harus dipelihara dengan baik agar terus tumbuh,
Anak manusia harus diberi contoh yang kelak bisa ditiru,
Teman dan lawan bukanlah orang lain,

Tontonan ini harus dihentikan!

Gantilah tontonan teater di istana antah berantah itu dengan tindakan yang bijak,
Sudah perih kami menahan nyeri,
Penat tubuh ini terus-terus merongrong kalian,
Pedih mata ini harus menyaksikan komedi tak layak tampil!

Sungguh, teman-temanku,
Kalian adalah mutiara dalam lumpur
Sungguh, jika tak ada satu makhlukpun yang mau menggubris kalian,
Ada Alloh yang berkuasa.
Sungguh, yang kalian lakukan,
Adalah pengorbanan yang kalian persembahkan,
Sungguh, pengorbanan untuk kebenaran,
Adalah kehormatan kalian di mata_Nya.

Senin, 3 Mei 2010
Saat diri tak mampu bersuara lantang.
Untuk teman-teman BEM UGM, i proud of u

Advertisements