Cinta itu Dia

indahnya cinta adalah karena memberi dan memafkan.
cinta tidak memiliki kemampuan untuk menyakiti, yang salah hanyalah cara mencintai.
cinta hanya hadir karena Dirinya, sungguh hadirnya cinta hanyalah karena Dia hadir dalam sebuah hati.
yakinlah, dengan cinta semua akan baik-baik saja.
karena cinta adalah Dirinya, Dirinya yang menguasai segala.

Kurasakan Ada Dirimu

Kata ini seakan menuju ke titik limit

Gemuruh rasa tak bisa tersampaikan

Hanya ingin berdiam diri dan menitik air mata

Jangan pernah kau tanya kenapa

Karena aku sedang mengadu kepada Tuhan ku

 

Tak harus kau !

Kubilang tak harus kau !

Tapi kenapa ada namamu, dan itu benar dirimu

Bukankah tidak harus kau ?

 

Apa yang bisa kuberikan sebagai jaminan dari hatiku

Tak ada, benar-benar tak ada

Aku tak punya

Jangan kau minta, kumohon !

 

Rasa itu entah, tak terbaca jelas olehku

Biarlah karena aku ingin melupakannya sejenak

Beranjak  menuju hal pasti yang harus kulalui saat ini

Dan itu bukan dirimu

 

Ijinkan aku sedikit angkuh padamu

Kenalkan aku akan dinginnya dirimu

Pastikan aku hanya tahu sedikit tentangmu

Biarkan rahasia yang tersisa untukku

 

rabu, 16 feb 2011

saat kata tak mampu terucap untuknya

karena tak satupun kata yang kurasa pantas untuk ku sampaikan padanya

Kasih Sayangnya Infinite

Odei Anak Nokeilah Ko Idaah
Nasusah Mati Yama No Megentian Dika
Odei Anak Nokeilah Ko Idaah
Nasusah Tomod Yamamu MinagAnak Dika

Wahai Anak Apakah Kau Mengerti
Betapa Deritanya
Ibu Yang Mengandung
Aduhai Anak Apakah Engkau Tahu
Alangkah Deritanya Ibu Melahirkanmu

Namun Kelahiranmu Adalah Penghibur Hati
Dibelai dan Dimanja Setiap Hari
Di Malam Hari Tidur Tak Berwaktu
Tapi Tak Mengapa Kerana Kau Disayangi

Hari-hari Sudah Pun Berlalu
Usiamu Makin Bertambah
Seorang Ibu Sudah Semakin Tua
Namun Terus Berkorban Untuk Sesuap Rezeki
Agar Sempurna Hari Depanmu

Kini Kau Dewasa
Ibumu Telah Pergi
Waktu Yang Berlalu Seakan Memanggil
Sudahkah Kau Curahkan Kasih Sayangmu
Apakah Terbalas Segala Jasanya
Syurga itu Di Bawah Tapak Kakinya

Hanyalah Anak-Anak Yang Soleh
Bisa Memberikan Kasih Sayangnya
Hanyalah Anak-Anak Yang Soleh
Bisa Mendoakan Hari Akhiratmu

Odei Anak by Raihan

Likuan Hati

Selalu ada rindu yang bersemayam dalam jiwa

Galau datang tak redakan gulananya

Ada senyum yang menghias dalam kepalsuan

Bisu dalam hanyut kelabu yang tersamar

Sampai kapan rasa ini akan bermukim dalam diri?

Menggerus kalbu yang telah  remuk menjadi serpih tak mengenal rasa

Keangkuhan diri yang diagungkan dengan segenap cita

Kini memaksa dirinya untuk menunjukkan kata yang terbungkam

Dalam perih ini, dalam serpih kegalauan yang tersisa ini

Aku ingin tetap berdiri dengan kakiku sendiri

Aku ingin dia tahu bahwa aku mampu

Aku akan tetap berdiri tegak seperti yang dulu-dulu

Lebih dari sekedar karang yang bergeming dihantam ombak ribuan kali

Lebih dari batu cadas yang deras diterpa air terjun tiap harinya

Sungguh aku akan jauh lebih kuat dari itu semua

Sungguh aku akan tetap mampu berdiri dengan tenagaku sendiri

Hanya harus melupakan rasa itu

Hanya harus sebentar saja mengesampingkan perasaan itu

Tak perlu dipikirkan terlalu

tak perlu dipusingkan sedikit

Kenapa aku harus takut?

Hanya sebentar saja

Hanya sedikit saja

Hanya seperti itu saja

aku pasti bisa!

Belenggu

Sebait kata tak kan mampu meraup segala tangis yang terbuncah dari dalam dada

Menggumpal menjadi satu kesatuan yang mempu menembus gelapnya jiwa

Dari sini, dari sisi ini tak ayal rasa itu bermukim

Ia menerpa, mengikis, memburu, menyedak, membuat perih yang dalam

Harusnya kedalaman itu segera keluar dari jengkal yang tetimbun dangkal

Harusnya telah lama ia menyeruak masuk ke dalam labirin cahaya yang menyala-nyala

Terang sekali nyalanya tapi tak sedikitpun tampak oleh mata

Cukup tali-tali ini menjeratku dalam kerumitan layaknya soal yang abstrak

Biarkan segalanya indah pada waktunya, bukankah ini janji-Nya? bukankah janji-Nya tak pernah salah?

Silakan semua ruang membatasiku

Silakan seluruh semak berduri menahanku

Aku akan terus melangkah, terus dan terus melangkah

Walau harus berputar dalam labirin, meski cedera kaki karena duri-duri

Karena ku tahu janji-Nya pasti!!!

Jogja, 21 Agustus 2010 (saat teringat inginku tak mampu menentang ingin-Nya)

Hanya Dia yang Tahu Siapa Aku

Biarkan lidah ini menahan huruf yang terangkai dalam kata

Biarkan diri ini bercermin pada kaca yang keruh

Biarkan ucap yang terlukis dalam laku ini seperti adanya

Biarkan Dia saja yang tahu siapa aku

Cukup aku yang menyangsikan benar salahnya diriku

Cukup aku yang meredam gemuruh benalu

Cukup aku yang setia dengan diriku

Cukup Dia yang tahu siapa aku

Walau dera meneguk habis semangatku

Walau ronta menahan jasadku melaju

Walau asa menarikku hingga putus

Biarkan Dia saja yang tahu siapa aku

Semburat Kelabu

Warna itu tak lagi seindah warnaku

Mega itu kelam tak nampak indahnya

Pasir itu tak lagi berbisik untukku

Tak tahu untukmu, apa kau merasa

Tak ada kata yang bisa ku bahasakan

Tak ada metode yang mampu meramalkan

Tak ada sendu yang bisa kuterjemahkan

Tak ada cerita yang bisa kutaburkan

Engkau jelas tak mengenalku

Engkau jelas tak perlu tahu aku

Engkau jelas tak perlu kehadiranku

Engkau tak perlu sadar kehadiranku

Biarkan kelabu itu tetap kelabu

Tak perlu diterjemahkan dalam kata

Tak perlu diungkapkan dengan rasa

Tak usah diperlihatkan dengan etika

Ku biarkan dalam diam

Ku biarkan dalam tutur yang bisu

Kubicara dalam hati yang beku

Kutenggelam dalam sepi yang menyeru,,,,dirimu

Sudah cukup kecemasanku

Sudah cukup pengharapanku

Engkau bukan segalanya bagiku

Engkau hanya,,,hanya,,,dirimu

Kuwaru, Ahad 18 Juli 2010

Sudut ruang tamu : Saat hati tahu kemampuan diri

Kidung Rindu

Selepas Terang

Deburan ombak terdengar tak biasa di telinga

Bergetar menembus raga yang lara

Sembilu tak lagi tajam menyayat

Titik air mata tak lagi menderas pipi

Lalu kemana perasaan itu?

Berkecamuk dalam lubuk, hanya didalamnya

Bagaimanakah semua itu dapat dilalui

Dapatkah ombak yang memecah tadi datang lagi

Akan ku hadapi, akan ku pecahkan dengan kepalan tanganku

Aku bisa berpegangan sekarang

Aku mampu tegak berdiam sekarang

Untuk beberapa saat tumbang lagi

Ada yang datang

Ada yang mengusik ego yang tumbuh

Ada yang membuncahkan emosi diri

Ada luapan mimpi

Ingatkan aku bukan aku yang dulu

Ingatkan aku bukan embun suci yang menyejukkan

Ingatkan aku bukan melati wangi yang menawan

Ingatkan aku bukan mentari hangat yang mencerahkan

Kuwaru, 10 Juli 2010

Dari perjalanan pantai yang elok

“Aku ingin ada seseorang yang menyanyikan sebuah lagu romantis untukku, walau hanya dalam hati, sungguh, walau hanya dalam hati, karena aku ingin disayangi.”

Jika memang kau pilihkan aku, tunggu sampai aku datang, nanti ku bawa kau pergi, ke syurga abadi

Kini belumlah saatnya, aku membalas cintamu, nantikanku di batas waktu.

Terdengar konyol atau terlalu melankolis atau terlalu manja memang ketika endengar permintaan seperti cuplikan diatas. Tapi pertanyaannya sekarang adalah salahkan permintaan itu?

Manusia di Balik Lubuk

Erangan nyata yang terdengar tak sedikitpun menyentuh daun telinganya,
Jeritan naas tak kan mampu memaksa kepalanya menengok,
Lenguhan panjang hanya akan terasa bising putaran kipas yang menyala,
Salakan dan lolongan panjang hanya mengantarkan untuk tetap tinggal diperaduan,

Bukan bahasa yang melangit memang,
Tindakan tak nyata yang tercerca pada harap yang tak kan pernah sampai pada muaranya,
Jengah dipandangan yang silau bergelimang intan remuk,

Silakan bungkam mulut mereka,
Silakan bekukan tubuhnya,
Suara itu akan tetap bergema,
Semakin bergema menyelimuti awan-awan negeri yang telah bobrok,

Sungguh, betapapun kalian ingkari
Wahai bapak-bapak, ibu-ibu, kakak-kakak yang duduk nyaman di negeri antah berantah
Kalian membutuhkan mereka,

Sungguh, apa jadinya kalian tanpa mereka?

Pucuk-pucuk tunas harus dipelihara dengan baik agar terus tumbuh,
Anak manusia harus diberi contoh yang kelak bisa ditiru,
Teman dan lawan bukanlah orang lain,

Tontonan ini harus dihentikan!

Gantilah tontonan teater di istana antah berantah itu dengan tindakan yang bijak,
Sudah perih kami menahan nyeri,
Penat tubuh ini terus-terus merongrong kalian,
Pedih mata ini harus menyaksikan komedi tak layak tampil!

Sungguh, teman-temanku,
Kalian adalah mutiara dalam lumpur
Sungguh, jika tak ada satu makhlukpun yang mau menggubris kalian,
Ada Alloh yang berkuasa.
Sungguh, yang kalian lakukan,
Adalah pengorbanan yang kalian persembahkan,
Sungguh, pengorbanan untuk kebenaran,
Adalah kehormatan kalian di mata_Nya.

Senin, 3 Mei 2010
Saat diri tak mampu bersuara lantang.
Untuk teman-teman BEM UGM, i proud of u