Sebait kata tak kan mampu meraup segala tangis yang terbuncah dari dalam dada
Menggumpal menjadi satu kesatuan yang mempu menembus gelapnya jiwa
Dari sini, dari sisi ini tak ayal rasa itu bermukim
Ia menerpa, mengikis, memburu, menyedak, membuat perih yang dalam
Harusnya kedalaman itu segera keluar dari jengkal yang tetimbun dangkal
Harusnya telah lama ia menyeruak masuk ke dalam labirin cahaya yang menyala-nyala
Terang sekali nyalanya tapi tak sedikitpun tampak oleh mata
Cukup tali-tali ini menjeratku dalam kerumitan layaknya soal yang abstrak
Biarkan segalanya indah pada waktunya, bukankah ini janji-Nya? bukankah janji-Nya tak pernah salah?
Silakan semua ruang membatasiku
Silakan seluruh semak berduri menahanku
Aku akan terus melangkah, terus dan terus melangkah
Walau harus berputar dalam labirin, meski cedera kaki karena duri-duri
Karena ku tahu janji-Nya pasti!!!
Jogja, 21 Agustus 2010 (saat teringat inginku tak mampu menentang ingin-Nya)